SOTERIOLOGI GEREJA KRISTEN PASUNDAN : ANALISA TERHADAP AJARAN KESELAMATAN GEREJA KRISTEN PASUNDAN DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA

01052013, DANIEL ADI PRIYATMOKO (2011) SOTERIOLOGI GEREJA KRISTEN PASUNDAN : ANALISA TERHADAP AJARAN KESELAMATAN GEREJA KRISTEN PASUNDAN DALAM KONTEKS PLURALITAS AGAMA. Bachelor thesis, Universitas Kristen Duta Wacana.

[img] Text (Skripsi Teologi)
01052013_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf

Download (582kB)
[img] Text (Skripsi Teologi)
01052013_bab2-sd-bab4_lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (515kB) | Request a copy

Abstract

Gereja Kristen Pasundan atau disingkat GKP melaksanakan panggilan dan pelayanannya di wilayah Jawa bagian barat, yaitu Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.1 Dalam melakukan tugas panggilan dan pelayanan, GKP tidak terlepas dari konteks, yaitu berhadapan dan bersentuhan dengan umat beragama yang lain. Isu tentang hubungan antar agama beserta permasalahannya menurut penulis adalah sebuah isu yang masih patut untuk diberikan porsi yang cukup besar. Dahulu nama wilayah Jawa bagian barat (kecuali Jakarta) ini adalah Pasundan. Kata Pasundan memiliki arti “tempat tinggal orang Sunda”.2 Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa. Penyebarannya adalah dari wilayah Ujung Kulon hingga sekitar Brebes. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Karena letaknya yang berdekatan dengan ibu kota negara, maka hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat, Suku Betawi mendiami daerah sekitar Jakarta. Suku Minang dan Suku Batak banyak mendiami Kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung, Cimahi, Bogor, Bekasi, dan Depok.3 Nama Jawa Barat sendiri adalah merupakan pemberian dari pemerintahan Belanda yang pada saat itu merupakan terjemahan dari kata West Java. Pada saat itu, pulau Jawa dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. Untuk memudahkan pembagian wilayah administrasi pemerintahannya, maka kata West Java digunakan oleh Pemerintahan Belanda pada saat itu.4 Pada saat ini, nama Jawa bagian barat yang digunakan berkaitan dengan lingkup pelayanan GKP meliputi provinsi Jawa Barat, provinsi Banten dan DKI Jakarta. Di Jawa bagian barat, mayoritas penduduk beragama Islam. Dari awal proses karya GKP di tempat ini, GKP telah banyak mengalami tantangan khususnya dengan konteks Islam yang sudah terlebih dahulu hadir daripada kekristenan.5 Pertemuan antara Islam dan Kristen di Indonesia memiliki jangka waktu yang cukup panjang. Sehingga, dengan jangka waktu yang panjang ini ajaran Islam memiliki akar yang kuat dalam penduduk di Jawa bagian barat ini. Sebuah agama yang baru dan nampak berbeda dengan agama yang sebelumnya, mungkin akan mendapatkan gesekan-gesekan atau pertentangan dari agama yang sudah ada sebelumnya. Perbedaan ajaran, khususnya ajaran keselamatan bisa menimbulkan pertentangan. Belum lagi ajaran kekristenan pada saat itu kebetulan datang bersama para penjajah yang bisa memberikan efek buruk bagi image kekristenan itu sendiri. Hal ini bisa menimbulkan fanatisme beragama yang berujung pada penganiayaan. Tidak jarang dalam perjalanan GKP berkarya (mungkin hingga saat ini), kekerasan dengan mengatasnamakan agama atau organisasi keagamaan sering terjadi. Contoh kejadian yang memprihatinkan yaitu tentang pengrusakan dan penutupan beberapa gedung GKP yang terjadi pada tahun 2005 yang lalu (belum termasuk gereja-gereja lain). Pengrusakan dan penutupan gereja yang terjadi pada tahun 2005 ternyata bukan untuk yang pertama kali. Jika ditelusuri, menurut data yang ada antara tahun 1996-2005, ada 6 gedung GKP yang dirusak, dibakar atau bahkan ditutup masa.6 a) Sekilas Tentang Soteriologi. Dalam hubungan antar agama, ajaran tentang keselamatan ternyata juga memegang peranan penting. Karena berbeda pemahaman, ajaran keselamatan bisa menjadi sumber konflik antar agama. Dalam istilah agama Kristen, ajaran keselamatan disebut juga Soteriologi yang berasal dari bahasa Yunani. Soteriologi dalam bahasa Yunani berasal dari kata Soteria yang berarti; pembebasan, keselamatan, (pembawa) keselamatan dan Logos yang berarti kata-kata, sabda atau wacana7. Dengan demikian, Soteriologi berarti wacana tentang keselamatan atau suatu ilmu yang di dalamnya mempelajari tentang keselamatan. Beberapa contoh mengenai indikasi pemahaman keselamatan terdapat di dalam buku Iman Kristen karangan Harun Hadiwijono. Harun memandang bahwa; “Karya Tuhan sebagai penyelamat umatNya ini dapat dilihat dari dua segi atau aspek, yaitu karyaNya dalam Tuhan Yesus Kristus untuk memperbaiki hubungan Tuhan Allah dengan manusia yang telah dirusak oleh dosa, dan KaryaNya yang dengan perantara Roh Kudus untuk menjadikan keselamatan yang telah diperoleh Kristus tadi benar-benar dimiliki manusia atau karyaNya untuk memasukan keselamatan tadi ke dalam eksistensi manusia”.8 Salah satu contoh lainnya yang terdapat di GKP ada dalam Pembukaan Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan Tata Gereja (TG dan PPTG) Gereja Kristen Pasundan: “Dengan Kuasa Roh Kudus, Allah memanggil semua orang untuk percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai sebagai Tuhan dan Juruselamat serta membimbing mereka untuk hidup dalam suatu Persekutuan, Pelayanan, dan Kesaksian di tengah dunia”.9 Selain itu di dalam pasal TG dan PPTG itu sendiripun terdapat ajaran tentang keselamatan, yang terdapat pada pasal 7 ayat 1 mengenai panggilan bersaksi: “Seluruh dan setiap Anggota Jemaat dipanggil untuk bersaksi di hadapan Tuhan dan sesama sebagai pernyataan iman orang percaya yang memungkinkan orang mengenal kasih dan Keselamatan dalam Yesus Kristus yang disediakan untuk manusia”.10 Dalam buku Iman Kristen dan beberapa bagian dari Tata Gereja dan Peraturan Pelaksanaan Tata Gereja GKP memang terlihat adanya indikasi pemahaman akan keselamatan. Beberapa indikasi pemahaman tentang keselamatan ini memang diperuntukkan untuk umat yang memeluk agama Kristen. Lalu bagaimana dengan yang lain, yang tidak menganut agama Kristen? Apakah tidak akan selamat? Dalam masa perkembangannya, Soteriologi atau wacana tentang keselamatan menjadi sebuah isu yang besar bagi Kekristenan. Hal ini terkait dengan adanya agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan selain Kristen yang mengambil peranan dalam kehidupan di dunia ini, dan ternyata mereka juga membawa wacana keselamatannya masing-masing. Misalnya dalam agama Islam, konsep penyelamatan bertitik berat pada manusia. Islam mengajarkan, bahwa pada waktunya Allah menurunkan firmanNya dengan perantara malaikat jibril untuk memberikan jalan keselamatan kepada manusia pada zamannya sendiri-sendiri; pada Ibrahim, Musa, Daud, Isa dan Muhammad. Dengan firmanNya itu Allah memberitahukan bagaimana manusia dapat memperoleh keselamatan. Tetapi untuk selanjutnya manusia itu sendirilah yang mengusahakan keselamatan itu dengan mentaati segala perintah Allah dan berbuat amal sebanyak-banyaknya.11 Dengan melihat adanya kepelbagaian ini, muncul paradigma-paradigma yang berkembang dalam agama Kristen berkenaan dengan hubungan antar agama. Knitter menyebutkan ada lima model yang umum dipakai pada saat ini yaitu: • Model penggantian total yang mengungkapkan bahwa tidak ada nilai dan keselamatan dalam agama-agama lain sehingga tidak ada dialog antar agama dan model penggantian parsial yang mengungkapkan pentingnya dialog antar agama untuk mengundang agama lain menjadi Kristen dengan mengakui dan menerima keselamatan dalam Yesus Kristus.12 Dua hal ini senada dengan paradigma eksklusif yang dimunculkan oleh Banawiratma yang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan diluar agamanya sendiri. Dalam agama Kristen bisa berarti, hanya dalam agama Kristen/hanya dalam gerejalah ada keselamatan, di luar gereja tidak ada keselamatan, tidak ada dialog antar agama.13 • Model pemenuhan mengungkapkan bahwa keselamatan juga bisa ditemukan diluar batasbatas gereja tetapi tetap melalui Kristus. Kristus bekerja dalam agama-agama lain tanpa mereka sadari dan merekapun tidak perlu menjadi Kristen untuk mendapat keselamatan.14 Berbeda nama, walaupun pemahamannya sama, Banawiratma memunculkan sebuah paradigma inklusif yaitu menerima kemungkinan adanya pewahyuan dalam agama-agama lain yang juga menjadi mediasi keselamatan bagi mereka yang memeluknya. Hal ini berarti bahwa orang-orang beragama lain akan diselamatkan oleh Yesus Kristus, walaupun mereka tidak menyadari itu. Penyelamatan tetap tersentral pada Yesus Kristus, walaupun tetap memberikan simpati pada agama yang lain. Dalam hal ini, paradigma yang ada kurang dapat memberikan pada kemungkinan bahwa melalui pertemuan yang terjadi yang satu bisa diperkaya oleh yang lain.15 • Model mutualis menekankan terhadap dialog yang benar, yaitu adanya kesetaraan dalam arti hak berbicara dan didengarkan berdasarkan nilai-nilai yang melekat pada masing-masing agama. Umat Kristen diajak untuk memiliki pemahaman baru akan Yesus sehingga tetap mempertahankan keunikan Yesus tanpa harus meremehkan tokoh-tokoh agama lain. Dialog bukan untuk menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah juruselamat satu-satunya dan final.16 Hal ini nampaknya senada dengan paradigma pluralis dialogal yang dikemukakan oleh Banawiratma yang menyatakan bahwa kekhasan masing-masing Iman harus diakui dan melalui dialog masing-masing bisa menyumbangkan kekayaannya. Masing-masing umat bersedia mendengarkan dan membiarkan diri disapa oleh iman dan kehidupan yang lain. Dalam paradigma ini kita menghormati jati diri mereka tanpa mereduksi mereka pada agama dan iman kita begitu juga sebaliknya dan tanpa melebur satu sama lain.17 • Model penerimaan mengungkapkan bahwa ada banyak agama yang benar dan jalan keselamatan yang beragam dengan menerima diversitas yang ada.18 Hal ini juga nampaknya senada dengan paradigma pluralis dialogal yang tetap mengusung perbedaan tanpa melebur satu sama lain. Pengertian Model penerimaan ini berbeda dengan apa yang disebut oleh Banawiratma sebagai paradigma pluralis indiferen.19 Paradigma ini cenderung melihat bahwa setiap agama adalah sama saja, sehingga perbedaan antar agama tidak diperlakukan dengan sewajarnya. b) Asumsi Konsekuensi Soteriologi Bagi Hubungan GKP Dan Konteksnya Melalui penjabaran yang penulis lakukan, penulis menarik beberapa asumsi sementara berkaitan dengan konsekuensi soteriologi jika GKP berhadapan dengan konteksnya. Melihat konteks yang pernah dialami GKP, yaitu; pembakaran dan pengrusakan gereja, penutupan gereja yang mengatasnamakan agama, sentimen atau intimidasi terhadap gereja, sulitnya mendirikan sarana dan prasarana peribadahan, bisa membuat anggota jemaat menjadi eksklusif. Hal ini mungkin terjadi dikarenakan rasa kebencian dan ketertekanan yang mereka alami atas ketidakadilan yang terjadi (asumsi ini merupakan asumsi sementara bukan final). Atau melainkan mereka malah bisa bersikap inklusif bahkan pluralis dalam menjawab tantangan yang ada pada konteks mereka. Tetapi bisa juga bahwa tanpa ada konteks yang mempengaruhi, ajaran keselamatan GKP terhadap agama lain dari sananya memang sudah bersifat eksklusif. Sehingga, dengan adanya benturan terhadap konteks, pemahaman bisa jadi semakin eksklusif (namun bisa juga berbalik arah menjadi inklusif atau pluralis). Namun, jika sikap inklusif atau pluralis ada di dalam anggota jemaat, apakah hal tersebut bisa dimungkinkan karena mereka ingin mendapatkan perlindungan dari agama yang lebih mayoritas?

Item Type: Thesis (Bachelor)
Uncontrolled Keywords: Jaran keselamatan, Gereja Kristen Pasundan, Pluralistik agama
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
B Philosophy. Psychology. Religion > BX Christian Denominations
G Geography. Anthropology. Recreation > GN Anthropology
Divisions: Fakultas Teologi > Teologi
Depositing User: Ms Lea Destiany
Date Deposited: 24 May 2021 02:05
Last Modified: 24 May 2021 02:05
URI: http://katalog.ukdw.ac.id/id/eprint/4735

Actions (login required)

View Item View Item