EKOTEOLOGI DALAM PERSPEKTIF EKOSENTRIS-HOLISTIK DI INDONESIA

50090252, BUDI CAHYONO (2012) EKOTEOLOGI DALAM PERSPEKTIF EKOSENTRIS-HOLISTIK DI INDONESIA. Masters thesis, Universitas Kristen Duta Wacana.

[img] Text (Tesis Ilmu Teologi)
50090252_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf

Download (1MB)
[img] Text (Tesis Ilmu Teologi)
50090252_bab2-sd-bab4_lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Saat ini Indonesia sedang mengalami permasalahan ekologis yang sangat besar. Permasalahan ekologis itu terjadi tak lain akibat dari cara manusia dalam berperilaku selama ini, khususnya berkenaan dengan hubungan mereka dengan makhluk lain dan lingkungannya. Ada sebuah ketidakberesan hubungan / interaksi antara manusia, baik dengan makhluk hidup lain, maupun dengan lingkungannya. Selain itu, terjadinya permasalahan ekologis itu semakin diperparah karena adanya kesalahan peran pemerintah. Hampir seluruh kebijakan politik pemerintah hanya cenderung mementingkan pertumbuhan ekonomi, sehingga segi keutuhan ciptaan kurang mendapatkan perhatian serius. Proses pembangunan yang demikian menunjukkan adanya permasalahan moral berkenaan dengan sudut pandang manusia terhadap makhluk lain dan lingkungannya. Munculnya permasalahan moral seperti ini tentu erat kaitannya dengan pandangan etis teologis yang dianut oleh manusia. Sehingga sehubungan dengan hal ini, bagaimana corak pandangan teologis yang sedang dianut oleh umat beragama sangatlah memegang peranan penting. Adanya ketidakberesan interaksi antara manusia, baik dengan makhluk hidup lain, maupun dengan lingkungannya, itu sesungguhnya disebabkan oleh adanya sebuah ketidakberesan terhadap konstruksi teologi (bahkan eko-teologi) yang dianut selama ini dalam hidup beragama. Sebab pada intinya jika memang telah terjadi suatu ketidakberesan terhadap konstruksi teologi yang sedang dianut –– apalagi mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah masyarakat beragama –– maka tentu hal ini akan membawa dampak luar biasa terhadap kehidupan keseharian. Sebab teologi yang dianut adalah sebuah ukuran / patokan yang dipakai oleh umat beragama, baik secara individu maupun dalam sebuah komunitas –– seiman maupun antar agama, dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Ketika konstruksi teologi yang dianut tersebut mampu memberi perhatian yang sesungguhnya terhadap unsurunsur ekologis, maka dapat dipastikan hal itu akan dapat memperbaiki hubungan antara manusia dengan makhluk lain dan dengan lingkungannya. Gereja-gereja di Indonesia –– melalui PGI sebagai wadahnya –– memang telah mempunyai sebuah rumusan pandangan teologi yang ekoteologis. Namun, konstruksi ekoteologi yang sedang dikembangkan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia tersebut ternyata masih cenderung condong ke arah ekonosentris (berpusat pada kepentingan ekonomi dan keuntungan material tanpa penghargaan sepatutnya terhadap lingkungan hidup); juga ekoteologi yang masih cenderung condong ke arah antroposentris (di mana alam masih dipahami sebagai sumber untuk manusia, tercipta untuk kepentingan dan bertujuan untuk kesejahteraan manusia). Dengan menimbang hal tersebut, maka sudah saatnya dibutuhkan adanya sebuah konstruksi/rumusan ekoteologi yang ekosentris-holistik sebagai suatu bentuk teologi kontekstual yang sesuai dengan konteks Indonesia saat ini. Sebab dalam konstruksi ekoteologi yang bersifat ekosentris-holistik, hal yang ditekankan adalah menyangkut keterkaitan antara seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu dalam ekosistem terkait antara satu dengan yang lain secara mutual. Ini mengisyaratkan bahwa proses hidup dan mati yang dialami oleh semua makhluk adalah sesuatu yang memang harus terjadi dalam tata kehidupan ekosistem. Hukum alam memungkinkan untuk saling memangsa di antara semua spesies, sebab hal itu berkenaan dengan kebutuhan hidup semua makhluk. Namun kehidupan dan kematian itu haruslah terjadi secara seimbang dan wajar. Dengan dasar pemikiran ini, maka perspektif ekoteologi yang ekosentris-holistik bermaksud untuk mengusahakan suatu keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem. Pendekatan ekosentrik-holistik ini sejalan dengan pemikiran Kristen, yakni bahwa seluruh kehidupan diciptakan oleh Allah dan bahwa semua unsur saling membutuhkan dan saling menopang, dan karena itu hidup yang benar adalah hidup yang memakai sambil memelihara, atau hidup yang mengambil dan memberi secara proporsional. Alam sendiri mempunyai makna sebagai penopang kehidupan, maka alam patut dihargai dan diperlakukan dengan baik. Oleh sebab itu penekanan terfokus pada soal pemeliharaan alam atau lingkungan, yang bukan hanya demi manusia, melainkan juga demi alam itu sendiri. Alam adalah penopang seluruh kehidupan maka ia berada bukan hanya untuk manusia melainkan untuk seluruh ciptaan. Manusia harus menjaga dan memelihara alam untuk kepentingan bersama atau kepentingan semua. Ekoteologi yang ekosentris-holistik ini selanjutnya diharapkan dapat dipakai menjadi suatu acuan dasar yang diterapkan dalam bentuk Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia. Dengan PTPB yang berbasiskan ekoteologi yang ekosentris-holistik tersebut, PGI –– sebagai wadah persekutuan gereja-gereja –– diharapkan mampu menjadi motivator, pelopor dan pendorong bagi gerak roda pelayanan gereja-gereja anggotanya dalam rangka terwujudnya salah satu tujuan yang esa berupa lingkungan yang lestari dan keseimbangan ekosistem di Indonesia.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Eko-teologi, Gereja, Lingkungan
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
Divisions: Fakultas Teologi > Magister Ilmu Teologi
Depositing User: Ms Lea Destiany
Date Deposited: 17 May 2021 01:50
Last Modified: 17 May 2021 01:50
URI: http://katalog.ukdw.ac.id/id/eprint/3382

Actions (login required)

View Item View Item