DIALOG DAN PLURALISME AGAMA DALAM PENDIDIKAN KRISTIANI DI SEKOLAH MINGGU GEREJA KRISTEN PROTESTAN INDONESIA

50110298, MERI ULINA GINTING (2014) DIALOG DAN PLURALISME AGAMA DALAM PENDIDIKAN KRISTIANI DI SEKOLAH MINGGU GEREJA KRISTEN PROTESTAN INDONESIA. Masters thesis, Universitas Kristen Duta Wacana.

[img] Text (Tesis Ilmu Teologi)
50110298_Bab1_Bab5_Daftarpustaka.pdf

Download (5MB)
[img] Text (Tesis Ilmu Teologi)
50110298_Bab2-sd-Bab4_Lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (5MB) | Request a copy

Abstract

Salah satu ciri bangsa dan masyarakat Indonesia adalah pluralitas agama. Pluralitas agama telah menjadi fakta sosial nyata yang harus dihadapi oleh setiap orang, termasuk gereja. GKPI adalah salah satu gereja yang hadir di tengah-tengah negara Indonesia. Oleh karena itu realitas pluralisme agama sangat penting untuk diperhatikan. Salah satunya yaitu melalui adanya pendidikan dialog berwawawasan Pluralisme agama di dalam pendidikan Kristiani di Gereja. Dialog dan pluralisme agama bisa terjadi jika dimulai dari adanya transformasi dari pendidikan. Selama ini pendidikan di GKPI masih diwarnai oleh pendidikan tradisonal gaya “Bank” yang diwariskan oleh para zendeling RMG dari Jerman. Pendidikan bertujuan untuk mengkristenkan masyarakat Batak atau orang lain. Akibatnya pendidikan yang diwariskan para zendeling ini mempengaruhi sikap dan pemikiran GKPI, sehingga keterbukaan terhadap dialog dan pluralisme agama belum sepenuhnya diterima oleh GKPI. Bahkan dialog dan pluralisme agama menjadi sebuah ketakutan, sehingga perlu dihindari dari pendidikan Kristiani. Namun pemahaman Freire tentang tujuan pendidikan yang membebaskan sangat penting untuk membuka kesadaran para jemaat untuk melihat realitas yang ada sekarang, salah satunya realitas pluralisme agama. GKPI hidup pada masa sekarang, dimana pemahaman pendidikan pada zaman zendeling sangat tidak tepat untuk konteks sekarang. Pendidikan masa sekarang bukan pendidikan yang menindas, tertutup, tidak kreatif, tidak sesuai dengan realitas. Pendidikan yang dibutuhkan sekarang adalah terbuka dan kritis terhadap realitas. Oleh karena itu pemikiran Feire penting bagi keterbukaan terhadap pendidikan. Melalui keterbukaan agama, maka pluralisme agama tidak dipahami sebagai ketakutan. Dialog bukan membuat kita takut untuk berjumpa dengan yang lain atau takut untuk dikritik. Seperti yang Panikkar katakan bahwa dialog dan Pluralisme agama justru akan memperkaya iman kita, agama kita. Kita berdialog berarti kita harus siap untuk dikritik dan melihat kebaikan-kebaikan di luar diri kita atau di luar agama kita. Dialog dan pluralisme agama akan menjadikan kita menemukan pembaharuan-pembaharuan yang memperkaya pemahaman iman kita. Alkitab juga telah berbicara bahwa dialog dan pluralisme itu penting untuk dilakukan. Seperti Yesus juga telah melakukan dialog dan pluralisme agama kepada orang-orang yang berbeda dengan diri-Nya, misalnya Nikodemus. Melalui dialog tersebut, bukan hanya Nikodemus yang berubah dan terbuka, tetapi Yesus juga mengalami pembaharuan. Oleh karena dialog itu positif, maka dialog dan pluralisme agama penting diajarkan kepada anak-anak sejak dini agar mereka menjadi anak-anak pluralis. Anak-anak adalah gereja masa kini dan gereja masa depan, sehingga ada masa kini dan masa depan pluralis di GKPI.

Item Type: Thesis (Masters)
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BR Christianity
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology
B Philosophy. Psychology. Religion > BV Practical Theology > BV1460 Religious Education
Divisions: Fakultas Teologi > Magister Ilmu Teologi
Depositing User: Mr Brayen Samuel Paendong
Date Deposited: 15 Dec 2020 02:18
Last Modified: 15 Dec 2020 02:18
URI: http://katalog.ukdw.ac.id/id/eprint/3234

Actions (login required)

View Item View Item