RESILIENSI DAN TRANSFORMASI KONFLIK TRANSGENERASIONAL TRAUMA PADA GENERASI KETIGA KELUARGA MANTAN AKTIVIS GERAKAN WANITA INDONESIA (GERWANI) EKS TAHANAN POLITIK 1965

54120024, YURIA EKALITANI (2016) RESILIENSI DAN TRANSFORMASI KONFLIK TRANSGENERASIONAL TRAUMA PADA GENERASI KETIGA KELUARGA MANTAN AKTIVIS GERAKAN WANITA INDONESIA (GERWANI) EKS TAHANAN POLITIK 1965. Masters thesis, Universitas Kristen Duta Wacana.

[img] Text (Tesis Kajian Konflik dan Perdamaian)
54120024_bab1_bab5_daftarpustaka.pdf

Download (3MB)
[img] Text (Tesis Kajian Konflik dan Perdamaian)
54120024_bab2-sd-bab4_lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB) | Request a copy

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses resiliensi yang dibangun oleh generasi ketiga anggota keluarga mantan aktivis Gerwani eks tahanan politik (tapol) tahun 1965 serta proses transformasi konflik yang dapat dibangun melalui resiliensi. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan dalam model transformasi konflik melalui pembangunan resiliensi yang nantinya diharapkan akan mampu membangun community resiliency untuk jangka panjang. Karakteristik informan dalam peneltian ini adalah anggota keluarga generasi ketiga/cucu mantan aktivis Gerwani yang menjadi eks tapol tahun 1965 dan mendapat cap sebagai “keluarga eks tapol”. Informan penelitian harus memenuhi kriteria mengalami transgenerasional trauma sesuai dengan kriteria Post Traumatic Stres Disorder (PTSD) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth-Text Revision (DSM IV-TR). Transgenerasional trauma ini diukur melalui skala PTSD dengan menggunakan alat ukur Impact of Event Scale–Revised (IESR) yang meliputi aspek fisik, emosi, pikiran, tindakan, dan hubungan sosial. Diagnosa bahwa informan penelitian ini mengalami transgenerasional trauma ditentukan melalui hasil pemeriksaan psikologis oleh psikolog. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, karena peneliti ingin mengeksplorasi dan mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai transgenerasional trauma dan pola resiliensi yang dibangun pada generasi ketiga anggota keluarga mantan aktivis Gerwani. Mendalami permasalahan (issue) yang terjadi, melihat bagaimana dampaknya dalam hubungan antar relasi individu dengan individu lain atau kelompok, serta bagaimana hubungannya dalam sub system dan system yang ada telah menunjukkan bahwa stigma yang melekat pada diri eks tahanan politik Gerwani, juga berdampak bagi keluarga mereka bahkan hingga generasi ketiga, sebagaimana yang diungkap dalam penelitian ini. Stigma tersebut melahirkan diskriminasi yang telah tersistematisasi dan merampas hak mereka dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Tekanan-tekanan dari masyarakat ini tidak lepas dari narasi-narasi versi rezim Orde Baru yang terus menerus dikampanyekan untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Hal inilah yang kemudian melahirkan trauma, trauma yang diturunkan lintas generasi, atau disebut juga sebagai transgenerasional trauma. Akar masalah dalam konflik transgenerasional trauma ini adalah rekayasa politik yang disebabkan oleh rezim Orde Baru atas peristiwa 1965. Dalam peristiwa itu, para anggota Gerwani atau mereka yang digerwanikan dituduh melakukan kudeta dan bersekongkol dengan PKI untuk menggulingkan pemerintahan terungkap bahwa semua itu adalah rekayasa politik belaka, sehingga mengubah hidupnya yang menjadi korban. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan bagi generasi ketiga anggota keluarga mantan aktivis Gerwani yang menjadi tahanan politik adalah dengan menyusun kembali visi masa depan mereka. Dengan visi yang mereka bangun kembali, generasi ketiga anggota keluarga mantan aktivis Gerwani ini mampu memaknai hidup lebih positif. Tekanan yang mereka rasakan akibat diskriminasi selama ini karena mereka adalah keturunan eks tahanan politik, tidak mengusiknya karena mampu menyelesaikan permasalahan dengan mekanisme koping yang baik. Kebertahan inilah yang kemudian disebut sebagai resiliensi, setiap tekanan yang mereka rasakan akan mampu mereka maknai dengan positif. Tekanan itu tidak membuat mereka terjatuh, namun justru semakin termotivasi untuk menegakkan keadilan dan memperjuangkan kebenaran. Perjuangan ini tidak mereka landasi dengan perasaan marah maupun rasa ingin balas dendam, melainkan mereka lakukan dengan semangat mewujudkan perdamaian bagi bangsa ini. Pemikiran seperti itulah yang mencegah timbulnya konflik yang makin meluas dan memutuskan garis turun temurun yang mewariskan transgenerasional trauma. Pada akhirnya, kesemuanya inilah yang kemudian mendukung terciptanya transformasi konflik.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: RESILIENSI, TRANSFORMASI KONFLIK, TRANSGENERASIONAL, TRAUMA, MANTAN GERWANI, EKS TAHANAN POLITIK 1965.
Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
H Social Sciences > HT Communities. Classes. Races
Divisions: Fakultas Teologi > Magister Kajian Konflik dan Perdamaian
Depositing User: Mr Brayen Samuel Paendong
Date Deposited: 10 Jun 2020 01:46
Last Modified: 10 Jun 2020 01:46
URI: http://katalog.ukdw.ac.id/id/eprint/1464

Actions (login required)

View Item View Item